"Aku ingin mereka merasakan, aku ingin mereka menyimpan, tapi aku
tak ingin seorang pun mengerti tulisan ini, aku ingin tulisan ini
serasa yang telah kualami: berat, kejam, hingga hati menangis darah."
Walau aku teracuni benci, walau aku hanyut dalam arus dendam. Tapi aku
menyadari itu, dan aku yang meracik racun itu dengan sengaja, aku yang
mencari arus itu.
Pada saat itu, hujan deras menghantam seluruh
tubuhku, air laut mendatangiku, ombaknya yang kejam, dan gelapnya malam
yang tak sedikitpun memberiku cahaya.
Pada saat itu, aku
mengitari kota kecil ini seorang diri, kota kecil yang dikelilingi
lautan. Aku berdiri tanpa tempat huni, aku terduduk tanpa tempat huni,
aku terbaring tanpa tempat huni, tanpa atap apalagi dinding. Aku terus
berjalan bersama waktu menjemput pagi, hingga kemudian malam
mendatangiku. Sebentuk jiwa yang telah kurangkul akrab, aku
mendatanginya, aku memintanya sesuatu. Dinginnya malam itu hampir tak
bisa kutepis, aku memohon kepada entah untuk sebuah atap, untuk
dinding-dinding. Namun aku pahit, aku tak mendapatkan semua itu. Aku
hanya mendapatkan sebuah ruang yang tak berdinding, beratapkan langit,
dimana kejahatan dan kebaikan telah kutemui, dan terkadang tak dapat
kubedakan. Segera aku melepaskan tangan yang sedang merangkul ini dari
sebentuk jiwa tadi. Kugunakan kedua tangan ini untuk menepis debu yang
dihantarkan angin kedadaku, pada saat itu.
Pada saat itu, aku
memiliki sebuah lagu yang telah lama tersimpan di dalam ranselku yang
besar. Kudengarkan lah lagu itu dengan maksud untuk menghibur diri yang
kusut ini, untuk melupakan rasa kopi yang tak diberi gula sedikitpun.
Komposisi musik yang tak berdinamika, melodi-melodi yang gelap, dan
syair monoton yang berulang-ulang mengatakan "persahabatan sebenarnya
adalah tak ada". Aku membuang jauh-jauh lagu itu, aku tak mengerti
mengapa lagu itu, bukannya menghiburku malah melawan arah pemikiranku
yang lama telah kutanam di kepalaku tentang syair-syair yang terdengar
tadi. Sejenak aku terfikir, dan sejenak pula aku melupa.
Aku
tak pernah mengerti tentang apa yang tidak kumengerti, tapi aku sangat
mengerti tentang jalannya hidup ini, tentang kejadian-kejadian yang
serupa yang mungkin akan datang nanti. Lalu jalan itu, aku menuju ke
arah perbukitan, disana terdapat pantai dan taman yang indah, mungkin
pegunungan, entah lah. Yang aku mengerti adalah arahku yang menanjak
keatas, tampak indah. Cuaca yang indah tak bisa kujelaskan, seperti
kemegahannya menyediakan mendung tak berhujan, awan-awan yang tersenyum.
Aku telah berjalan hingga sejauh sekarang, mungkin dengan sedikit
dendam, tapi tak ada dendam itu. Mungkin tanpa dendam, tapi ada sedikit
dendam itu. Dan bukan tak mungkin bila kalimatnya adalah: hanya diri
ini, dari diri ini, untuk diri ini. Diri ini adalah segalanya untuk diri
ini, karena terkadang kita tak bisa mengharapkan atau meminta sesuatu
yang kita butuhkan yang telah tuhan berikan kepada orang lain. Dan
terkadang kita harus ditampar oleh sebuah entah, supaya sedikit
banyaknya kita mengerti tentang putaran dunia ini yang menyelipkan
kekejaman dan kepahitan, mungkin.