Dikala biru langit sudah matang, si kantuk pun datang. Aku lihat rekaman malam tadi, saat aku menunggu kantuk yang tak kunjung datang, kemana dia? Terlalu sering begitu! Bahkan saat biru langit masih mentah aku masih menunggu. Rasanya semakin sukar saja, semakin sukar aku pergi ke bawah sadar di malam hari. Andai aku lihai meracik bumbu-bumbu untuk pagi rasa malam, atau aku goreng saja pagi? Supaya menghitam dia. Tapi entah lah itu. Bukan aku menyalahkan kantuk, bukan aku menyalahkan malam, bukan juga aku menyalahkan pagi, tapi biar lah semua energi datang menyalahkan aku, lalu cahaya datang meleburkan salah, gampang bukan?
Sepertinya aku harus membangun tembok-tembok jalan untuk arah aku berjalan, menyediakan ruang-ruang untuk rutinitas-rutinitas setiap harinya. Sebenarnya sekarang aku lebih suka untuk menyalahkan lapar, karena berlawanan dengan tema ini. Tapi apakah sesuatu yang berlawanan itu selalu salah? Bagaimana? Bila aku tak ingin membuntutimu karena aku ingin berjalan diarah yang sudah kupersiapkan. Apakah kau akan marah? Haruskah kau mengajak aku untuk setiap judul tindakanmu? Apa tidak ada rasa risih bila aku membuntuti? Aku saja risih bila memang gerah dan berlebihan.
Aku masih tidak melupa saat kita belajar tentang bagian-bagian yang akan dijadikan porsi, kemudian kita belajar tentang batasan-batasan. Saat itu kau adalah teman sebangkuku, iya bukan?
bersambung...
Akulah puisi, Ayahku pena, Ibuku kertas, dan semestaku adalah imajinasi. Rasakan bertamasya di Rimba bahasa nan licin ini, semoga tidak terpeleset. https://twitter.com/akulahpuisi
Sabtu, 28 Juli 2012
Sabtu, 21 Juli 2012
Hujan
Hai hujan, kau lipat gandakan dingin di tempat ini
Hai bandung, kemarin aku telah merindukanmu ditengah sana
Hai ramadhan, umat islam semakin lucu saja
Saat ini adalah malam pertama puasa, tadi aku tidak tarawih, sedikit sedih (hahaha (itu lah sedih). "Hai orang tuaku, tau kah kalian bahwa ada lem untuk melekatkan kembali benda yang terpisah patah?" "Hai adik-adikku, kalian lah yang terbaik tapi aku sudah berlari saat kalian mulai bisa jalan".
Hmmm.. Ini juga pertama kali untuk aku berpuasa di perantauan, biasanya aku berpuasa di rumah bersama keluargaku. Tapi malam ini adalah Bandung yang berair-air dan besok adalah puasa ke satu.
Selamat berpuasa ayah, ibu, adik-adikku, selamat berpuasa untuk semua keluargaku, selamat berpuasa teman-teman, selamat berpuasa kekasih, selamat berpuasa semuanya..
Hmmm.. Ini juga pertama kali untuk aku berpuasa di perantauan, biasanya aku berpuasa di rumah bersama keluargaku. Tapi malam ini adalah Bandung yang berair-air dan besok adalah puasa ke satu.
Selamat berpuasa ayah, ibu, adik-adikku, selamat berpuasa untuk semua keluargaku, selamat berpuasa teman-teman, selamat berpuasa kekasih, selamat berpuasa semuanya..
Senin, 16 Juli 2012
Rumah ini milik bersama
Penuh tanya kubertanya terang
Apakah semua tak sejajar bersama?
Yang terkuat yang kan dirajakan
Dan yang lain berlomba saling rebutan
Ingin kuulangi... Lalu kubenahi...
Ingin kuulangi... Lalu kubenahi...
Tiada alasan menghancurkan
Rumah ini milik bersama
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Apakah semua tak sejajar bersama?
Yang terkuat yang kan dirajakan
Dan yang lain berlomba saling rebutan
Ingin kuulangi... Lalu kubenahi...
Ingin kuulangi... Lalu kubenahi...
Tiada alasan menghancurkan
Rumah ini milik bersama
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Kamis, 12 Juli 2012
Musikalitas Puisi
Disetiap hentaknya, disetiap suaranya
Disetiap nadanya, disetiap katanya
Disetiap musiknya, disetiap kalimatnya
Disetiap lagunya, disetiap syairnya
Bertumbuhan imajinasi
Berhamburan khiasan
Mengalir energi
Mengalir energi
Disetiap nadanya, disetiap katanya
Disetiap musiknya, disetiap kalimatnya
Disetiap lagunya, disetiap syairnya
Bertumbuhan imajinasi
Berhamburan khiasan
Mengalir energi
Mengalir energi
Hari Ini Menantang
Hari ini menantang, membangunkan diamku
Menyeretku keluar dan aku mulai melangkah
Gagah langit mengiringiku berjalan
Panas dingin tak menghentikan langkahku
Awan putih teriak melemparkan senyuman
Angin berhembus pelan menghapus rasa sakit
Gagah langit mengiringiku berjalan
Panas dingin tak menghentikan langkahku
Dan telah kugenggam banyak perasaan
Dan kutanam harapan yang kan pasti menumbuh
Dan ku berdiri disaat matahari dan bulan bintang bersinar menerangi
Gegas...Gegas...Gegas... Bergegas
Mainkan langkah keluar
Main... Main... Main... Bermain
Rasa indahnya suasana
Karena keangkuhan hari ini sangat menantang
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Menyeretku keluar dan aku mulai melangkah
Gagah langit mengiringiku berjalan
Panas dingin tak menghentikan langkahku
Awan putih teriak melemparkan senyuman
Angin berhembus pelan menghapus rasa sakit
Gagah langit mengiringiku berjalan
Panas dingin tak menghentikan langkahku
Dan telah kugenggam banyak perasaan
Dan kutanam harapan yang kan pasti menumbuh
Dan ku berdiri disaat matahari dan bulan bintang bersinar menerangi
Gegas...Gegas...Gegas... Bergegas
Mainkan langkah keluar
Main... Main... Main... Bermain
Rasa indahnya suasana
Karena keangkuhan hari ini sangat menantang
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Selasa, 07 Februari 2012
Minggu, 08 Januari 2012
Cermin Berbicara di hadapanku
Jangan.. Jangan pasang tema mereka di ujaran bunyi mulutmu..
Yang bernada penuh ejek, jangan..
Jangan.. Jika dia bahanmu yang tak bersalah sama sekali..
Kau akan tampak seperti gerah menyerangmu..
Sebab ruangmu sempit dan dangkal..
Seperti raga-raga yang senang mengendap di dalam kandang..
Sebab kau menusuk dengan beberapa kalimatmu..
Tanpa keterujian.. Dan seperti lupa akan diri..
Taring yang tumpul namun tetap saja di pakai..
Aku adalah cermin yang tak tau apa itu kesalahan..
Aku tak tau itu salah atau antonim dari salah..
Hanya saja kau yang merasakan..
Di bagian dalammu terdapat bentuk dan ruang adalah hati..
Yang bernada penuh ejek, jangan..
Jangan.. Jika dia bahanmu yang tak bersalah sama sekali..
Kau akan tampak seperti gerah menyerangmu..
Sebab ruangmu sempit dan dangkal..
Seperti raga-raga yang senang mengendap di dalam kandang..
Sebab kau menusuk dengan beberapa kalimatmu..
Tanpa keterujian.. Dan seperti lupa akan diri..
Taring yang tumpul namun tetap saja di pakai..
Aku adalah cermin yang tak tau apa itu kesalahan..
Aku tak tau itu salah atau antonim dari salah..
Hanya saja kau yang merasakan..
Di bagian dalammu terdapat bentuk dan ruang adalah hati..
Jumat, 06 Januari 2012
Lelaki Pendiam
Tampak olehku lelaki dekil
Aku rasa jalanan telah mencalit dia dgn debu-debu
Daki-daki yang melekat di kulit tubuhnya
Dia pendiam dan tak hiraukan raga-raga lain
Panah matanya mengarah bolak-balik sekitar
Entah apa yang ada di dalam kepalanya
Aku pun segera meraba kalimat-kalimat yang ada di keningnya
Tapi samar ku rasa dan hanya bisa menebak saja
Pernah ku singgahi dia dan ku ajak berdialog
Tertuju padanya semua pertanyaanku
Dia menjawab sembari aku mendengarkan
Ada sedikit rasa terkejut di dalam hati, di dalam hatiku.
Atas Nama Perbedaan
Enggan bersaksi kesedihan di atas kekuatan
Seakan terpanah ilusi yang menekan
Saat darah, tangisan, dan kematian
Namun tak lelah selalu bermimpi untuk kita berjalan
Teriak bersama dalam satu lingkaran
Tanpa darah, tangisan, dan kematian
Renungkan dan kita kan bersatu menyadari semua
Atas Nama Perbedaan yang telah nyata
*
Mentari kan menjadi saksi dan tersenyum kembali
Lupakan tinggi, rendah, kuat, dan lemah
Dan bulan berpelukkan bintang menghiasi sang malam
Jadikan satu langkah kita ke depan, penuh senyuman
Merangkul lah kita tuk menggapai senyuman yang selama ini kita dambakan
Takkan ada kebencian yang menghancurkan senyuman ini
Dan kita tuk selamanya
Dan atas nama perbedaan
Kita kan bersama selamanya
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Seakan terpanah ilusi yang menekan
Saat darah, tangisan, dan kematian
Namun tak lelah selalu bermimpi untuk kita berjalan
Teriak bersama dalam satu lingkaran
Tanpa darah, tangisan, dan kematian
Renungkan dan kita kan bersatu menyadari semua
Atas Nama Perbedaan yang telah nyata
*
Mentari kan menjadi saksi dan tersenyum kembali
Lupakan tinggi, rendah, kuat, dan lemah
Dan bulan berpelukkan bintang menghiasi sang malam
Jadikan satu langkah kita ke depan, penuh senyuman
Merangkul lah kita tuk menggapai senyuman yang selama ini kita dambakan
Takkan ada kebencian yang menghancurkan senyuman ini
Dan kita tuk selamanya
Dan atas nama perbedaan
Kita kan bersama selamanya
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Sosok Abadi
Waktu yang terus berganti
Denyut nadiku mengiringi
Tak perlu untuk ku bersembunyi
Dan telah ku tuangkan
Apa yang telah kurasakan
Dengan sejuta kelemahan
Inginku untukmu selalu bahagia
Maafkan diri ini tak mampu untuk sempurna
*
Saat sang mentari datang dan menghilang
Gelapnya malam pun menyinggahi
Sosok Abadimu tak kan hilang, terjaga di hati
Lembut halus kasihmu
Mengalir di dalam darahku
Seiring makna menumbuhkanku
Dan semua kau berikan
Untuk bahagia ku dapatkan
Tulus kasihmu tak terlupakan
Inginku untukmu selalu bahagia
Maafkan diri ini tak mampu untuk sempurna
*
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Denyut nadiku mengiringi
Tak perlu untuk ku bersembunyi
Dan telah ku tuangkan
Apa yang telah kurasakan
Dengan sejuta kelemahan
Inginku untukmu selalu bahagia
Maafkan diri ini tak mampu untuk sempurna
*
Saat sang mentari datang dan menghilang
Gelapnya malam pun menyinggahi
Sosok Abadimu tak kan hilang, terjaga di hati
Lembut halus kasihmu
Mengalir di dalam darahku
Seiring makna menumbuhkanku
Dan semua kau berikan
Untuk bahagia ku dapatkan
Tulus kasihmu tak terlupakan
Inginku untukmu selalu bahagia
Maafkan diri ini tak mampu untuk sempurna
*
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)
Langganan:
Postingan (Atom)

