Minggu, 08 Januari 2012

Cermin Berbicara di hadapanku

Jangan.. Jangan pasang tema mereka di ujaran bunyi mulutmu..
Yang bernada penuh ejek, jangan..
Jangan.. Jika dia bahanmu yang tak bersalah sama sekali..
Kau akan tampak seperti gerah menyerangmu..
Sebab ruangmu sempit dan dangkal..

Seperti raga-raga yang senang mengendap di dalam kandang..
Sebab kau menusuk dengan beberapa kalimatmu..
Tanpa keterujian.. Dan seperti lupa akan diri..
Taring yang tumpul namun tetap saja di pakai..

Aku adalah cermin yang tak tau apa itu kesalahan..
Aku tak tau itu salah atau antonim dari salah..
Hanya saja kau yang merasakan..
Di bagian dalammu terdapat bentuk dan ruang adalah hati..

Jumat, 06 Januari 2012

Lelaki Pendiam

Tampak olehku lelaki dekil
Aku rasa jalanan telah mencalit dia dgn debu-debu
Daki-daki yang melekat di kulit tubuhnya
Dia pendiam dan tak hiraukan raga-raga lain

Panah matanya mengarah bolak-balik sekitar
Entah apa yang ada di dalam kepalanya
Aku pun segera meraba kalimat-kalimat yang ada di keningnya
Tapi samar ku rasa dan hanya bisa menebak saja

Pernah ku singgahi dia dan ku ajak berdialog
Tertuju padanya semua pertanyaanku
Dia menjawab sembari aku mendengarkan
Ada sedikit rasa terkejut di dalam hati, di dalam hatiku.

Atas Nama Perbedaan

Enggan bersaksi kesedihan di atas kekuatan
Seakan terpanah ilusi yang menekan
Saat darah, tangisan, dan kematian

Namun tak lelah selalu bermimpi untuk kita berjalan
Teriak bersama dalam satu lingkaran
Tanpa darah, tangisan, dan kematian

Renungkan dan kita kan bersatu menyadari semua
Atas Nama Perbedaan yang telah nyata

*
Mentari kan menjadi saksi dan tersenyum kembali
Lupakan tinggi, rendah, kuat, dan lemah
Dan bulan berpelukkan bintang menghiasi sang malam
Jadikan satu langkah kita ke depan, penuh senyuman

Merangkul lah kita tuk menggapai senyuman yang selama ini kita dambakan
Takkan ada kebencian yang menghancurkan senyuman ini
Dan kita tuk selamanya

Dan atas nama perbedaan
Kita kan bersama selamanya

(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)

Sosok Abadi

Waktu yang terus berganti
Denyut nadiku mengiringi
Tak perlu untuk ku bersembunyi

Dan telah ku tuangkan
Apa yang telah kurasakan
Dengan sejuta kelemahan

Inginku untukmu selalu bahagia
Maafkan diri ini tak mampu untuk sempurna

*
Saat sang mentari datang dan menghilang
Gelapnya malam pun menyinggahi
Sosok Abadimu tak kan hilang, terjaga di hati

Lembut halus kasihmu
Mengalir di dalam darahku
Seiring makna menumbuhkanku

Dan semua kau berikan
Untuk bahagia ku dapatkan
Tulus kasihmu tak terlupakan


Inginku untukmu selalu bahagia
Maafkan diri ini tak mampu untuk sempurna

*
(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)