Jumat, 04 Oktober 2013

Pada Saat Itu

"Aku ingin mereka merasakan, aku ingin mereka menyimpan, tapi aku tak ingin seorang pun mengerti tulisan ini, aku ingin tulisan ini serasa yang telah kualami: berat, kejam, hingga hati menangis darah."

   Walau aku teracuni benci, walau aku hanyut dalam arus dendam. Tapi aku menyadari itu, dan aku yang meracik racun itu dengan sengaja, aku yang mencari arus itu.
   Pada saat itu, hujan deras menghantam seluruh tubuhku, air laut mendatangiku, ombaknya yang kejam, dan gelapnya malam yang tak sedikitpun memberiku cahaya.
   Pada saat itu, aku mengitari kota kecil ini seorang diri, kota kecil yang dikelilingi lautan. Aku berdiri tanpa tempat huni, aku terduduk tanpa tempat huni, aku terbaring tanpa tempat huni, tanpa atap apalagi dinding. Aku terus berjalan bersama waktu menjemput pagi, hingga kemudian malam mendatangiku. Sebentuk jiwa yang telah kurangkul akrab, aku mendatanginya, aku memintanya sesuatu. Dinginnya malam itu hampir tak bisa kutepis, aku memohon kepada entah untuk sebuah atap, untuk dinding-dinding. Namun aku pahit, aku tak mendapatkan semua itu. Aku hanya mendapatkan sebuah ruang yang tak berdinding, beratapkan langit, dimana kejahatan dan kebaikan telah kutemui, dan terkadang tak dapat kubedakan. Segera aku melepaskan tangan yang sedang merangkul ini dari sebentuk jiwa tadi. Kugunakan kedua tangan ini untuk menepis debu yang dihantarkan angin kedadaku, pada saat itu.
   Pada saat itu, aku memiliki sebuah lagu yang telah lama tersimpan di dalam ranselku yang besar. Kudengarkan lah lagu itu dengan maksud untuk menghibur diri yang kusut ini, untuk melupakan rasa kopi yang tak diberi gula sedikitpun. Komposisi musik yang tak berdinamika, melodi-melodi yang gelap, dan syair monoton yang berulang-ulang mengatakan "persahabatan sebenarnya adalah tak ada". Aku membuang jauh-jauh lagu itu, aku tak mengerti mengapa lagu itu, bukannya menghiburku malah melawan arah pemikiranku yang lama telah kutanam di kepalaku tentang syair-syair yang terdengar tadi. Sejenak aku terfikir, dan sejenak pula aku melupa.
   Aku tak pernah mengerti tentang apa yang tidak kumengerti, tapi aku sangat mengerti tentang jalannya hidup ini, tentang kejadian-kejadian yang serupa yang mungkin akan datang nanti. Lalu jalan itu, aku menuju ke arah perbukitan, disana terdapat pantai dan taman yang indah, mungkin pegunungan,  entah lah. Yang aku mengerti adalah arahku yang menanjak keatas, tampak indah. Cuaca yang indah tak bisa kujelaskan, seperti kemegahannya menyediakan mendung tak berhujan, awan-awan yang tersenyum. Aku telah berjalan hingga sejauh sekarang, mungkin dengan sedikit dendam, tapi tak ada dendam itu. Mungkin tanpa dendam, tapi ada sedikit dendam itu. Dan bukan tak mungkin bila kalimatnya adalah: hanya diri ini, dari diri ini, untuk diri ini. Diri ini adalah segalanya untuk diri ini, karena terkadang kita tak bisa mengharapkan atau meminta sesuatu yang kita butuhkan yang telah tuhan berikan kepada orang lain. Dan terkadang kita harus ditampar oleh sebuah entah, supaya sedikit banyaknya kita mengerti tentang putaran dunia ini yang menyelipkan kekejaman dan kepahitan, mungkin.

Sabtu, 28 Juli 2012

Si kantuk pun datang

Dikala biru langit sudah matang, si kantuk pun datang. Aku lihat rekaman malam tadi, saat aku menunggu kantuk yang tak kunjung datang, kemana dia? Terlalu sering begitu! Bahkan saat biru langit masih mentah aku masih menunggu. Rasanya semakin sukar saja, semakin sukar aku pergi ke bawah sadar di malam hari. Andai aku lihai meracik bumbu-bumbu untuk pagi rasa malam, atau aku goreng saja pagi? Supaya menghitam dia. Tapi entah lah itu. Bukan aku menyalahkan kantuk, bukan aku menyalahkan malam, bukan juga aku menyalahkan pagi, tapi biar lah semua energi datang menyalahkan aku, lalu cahaya datang meleburkan salah, gampang bukan?
Sepertinya aku harus membangun tembok-tembok jalan untuk arah aku berjalan, menyediakan ruang-ruang untuk rutinitas-rutinitas setiap harinya. Sebenarnya sekarang aku lebih suka untuk menyalahkan lapar, karena berlawanan dengan tema ini. Tapi apakah sesuatu yang berlawanan itu selalu salah? Bagaimana? Bila aku tak ingin membuntutimu karena aku ingin berjalan diarah yang sudah kupersiapkan. Apakah kau akan marah? Haruskah kau mengajak aku untuk setiap judul tindakanmu? Apa tidak ada rasa risih bila aku membuntuti? Aku saja risih bila memang gerah dan berlebihan.
Aku masih tidak melupa saat kita belajar tentang bagian-bagian yang akan dijadikan porsi, kemudian kita belajar tentang batasan-batasan. Saat itu kau adalah teman sebangkuku, iya bukan?

bersambung...

Sabtu, 21 Juli 2012

Hujan



Hai hujan, kau lipat gandakan dingin di tempat ini
Hai bandung, kemarin aku telah merindukanmu ditengah sana
Hai ramadhan, umat islam semakin lucu saja
Saat ini adalah malam pertama puasa, tadi aku tidak tarawih, sedikit sedih (hahaha (itu lah sedih). "Hai orang tuaku, tau kah kalian bahwa ada lem untuk melekatkan kembali benda yang terpisah patah?" "Hai adik-adikku, kalian lah yang terbaik tapi aku sudah berlari saat kalian mulai bisa jalan".
Hmmm.. Ini juga pertama kali untuk aku berpuasa di perantauan, biasanya aku berpuasa di rumah bersama keluargaku. Tapi malam ini adalah Bandung yang berair-air dan besok adalah puasa ke satu.
Selamat berpuasa ayah, ibu, adik-adikku, selamat berpuasa untuk semua keluargaku, selamat berpuasa teman-teman, selamat berpuasa kekasih, selamat berpuasa semuanya..

Senin, 16 Juli 2012

Rumah ini milik bersama

Penuh tanya kubertanya terang
Apakah semua tak sejajar bersama?
Yang terkuat yang kan dirajakan
Dan yang lain berlomba saling rebutan

Ingin kuulangi... Lalu kubenahi...
Ingin kuulangi... Lalu kubenahi...

Tiada alasan menghancurkan
Rumah ini milik bersama

(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)

Kamis, 12 Juli 2012

Musikalitas Puisi

Disetiap hentaknya, disetiap suaranya
Disetiap nadanya, disetiap katanya
Disetiap musiknya, disetiap kalimatnya
Disetiap lagunya, disetiap syairnya

Bertumbuhan imajinasi
Berhamburan khiasan
Mengalir energi
Mengalir energi

Hari Ini Menantang

Hari ini menantang, membangunkan diamku
Menyeretku keluar dan aku mulai melangkah
Gagah langit mengiringiku berjalan
Panas dingin tak menghentikan langkahku

Awan putih teriak melemparkan senyuman
Angin berhembus pelan menghapus rasa sakit
Gagah langit mengiringiku berjalan
Panas dingin tak menghentikan langkahku

Dan telah kugenggam banyak perasaan
Dan kutanam harapan yang kan pasti menumbuh
Dan ku berdiri disaat matahari dan bulan bintang bersinar menerangi

Gegas...Gegas...Gegas... Bergegas
Mainkan langkah keluar
Main... Main... Main... Bermain
Rasa indahnya suasana
Karena keangkuhan hari ini sangat menantang

(catatan: puisi ini adalah lirik lagu saya)