Dikala biru langit sudah matang, si kantuk pun datang. Aku lihat rekaman malam tadi, saat aku menunggu kantuk yang tak kunjung datang, kemana dia? Terlalu sering begitu! Bahkan saat biru langit masih mentah aku masih menunggu. Rasanya semakin sukar saja, semakin sukar aku pergi ke bawah sadar di malam hari. Andai aku lihai meracik bumbu-bumbu untuk pagi rasa malam, atau aku goreng saja pagi? Supaya menghitam dia. Tapi entah lah itu. Bukan aku menyalahkan kantuk, bukan aku menyalahkan malam, bukan juga aku menyalahkan pagi, tapi biar lah semua energi datang menyalahkan aku, lalu cahaya datang meleburkan salah, gampang bukan?
Sepertinya aku harus membangun tembok-tembok jalan untuk arah aku berjalan, menyediakan ruang-ruang untuk rutinitas-rutinitas setiap harinya. Sebenarnya sekarang aku lebih suka untuk menyalahkan lapar, karena berlawanan dengan tema ini. Tapi apakah sesuatu yang berlawanan itu selalu salah? Bagaimana? Bila aku tak ingin membuntutimu karena aku ingin berjalan diarah yang sudah kupersiapkan. Apakah kau akan marah? Haruskah kau mengajak aku untuk setiap judul tindakanmu? Apa tidak ada rasa risih bila aku membuntuti? Aku saja risih bila memang gerah dan berlebihan.
Aku masih tidak melupa saat kita belajar tentang bagian-bagian yang akan dijadikan porsi, kemudian kita belajar tentang batasan-batasan. Saat itu kau adalah teman sebangkuku, iya bukan?
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar